HUBUNGAN ANTARA FUNGSI KOGNITIF DENGAN INTERAKSI SOSIAL PADA LANSIA DI PANTI HARMONI KOTA BLITAR

Nobu, Ana Imelda (2015) HUBUNGAN ANTARA FUNGSI KOGNITIF DENGAN INTERAKSI SOSIAL PADA LANSIA DI PANTI HARMONI KOTA BLITAR. Masters thesis, STIKes Patria Husada Blitar.

[img] Text
SKRIPSI BAKAR.docx

Download (156kB)

Abstract

Keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional mewujudkan hasil yang sagat positif diberbagai bidang, yaitu, adanya kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dibidang kesehatan sehingga kualitas kesehatan penduduk serta usia harapan hidup juga meningkat. Akibatnya jumlah penduduk usia lanjut meningkat dan bertambah cenderung lebih cepat. Bahkan pada tahun 2020-2025 diperkirakan Indonesia akan menduduki peringkat negara dengan struktur dan jumlah penduduk lanjut usia setelah RRC, India, dan Amerika Serikat, dengan usia harapan hidup di atas 70 tahun (Nugroho, 2008). Menurut WHO adalah sesorang yang berumur diatas 60 tahun, dan menurut UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia bahwa, lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun atau lebih, (Ismayadi 2004). Di seluruh dunia di perkirakan lebih dari 629 juta jiwa, dan pada tahu 2025 jumlah lanjut usia diperkirakan 1,25 miliar. Secara demografis, berdsarkan sensus penduduk pada tahun 2000 jumlah berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2000 jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas sejumlah 17,8 juta jiwa (8%) dari jumlah penduduk, pada tahun 2005 meningkat menjadi 20 juta jiwa (8,5%) dari jumlah penduduk dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 24 juta jiwa (9,8%) dari jumlah penduduk. Jumlah penduduk pada tahun 2020 diperkirakan meningkat menjadi 28,9 juta jiwa (11,4%) dari jumlah penduduk. Hal ini membuktikan bahwa jumlah lanjut usia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya (Nugroho, 2008). Peningkatan populasi lansia ini dapat menyebabkan permasalahan. Permasalahan yang berkaitan dengan perkembangan kehidupan lansia salah satunya adalah proses menua, baik secara fisik, mental maupun psikososial (Tamher & Noorkasiani, 2009) . Semakin lanjut usia seseorang, maka kemampuan fisiknya akan semakin menurun, sehingga dapat mengakibatkan kemunduran pada peran-peran sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya gangguan dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain. Mengantisipasi kondisi ini pengkajian masalah-masalah usia lanjut perlu ditingkatkan, termasuk aspek keperawatannya agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan sertas untuk menjamin tercapainya usia lanjut yang bahagia, berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat di Indonesia (Tamher & Noorkasiani, 2009). Salah satu gangguan kesehatan yang dapat muncul pada lansia adalah gangguan mental. Gangguan mental yang sering muncul pada masa ini adalah depresi dan gangguan fungsi kognitif.Sejumlah faktor resiko psikososial juga mengakibatkan lansia pada gangguan fungsi kognitif.Faktor resiko tersebut adalah hilangnya peranan sosial, hilangnya ekonomi, kematian teman atau sanak saudaranya, penurunan kesehatan, peningkatan isolasi karena hilangnya interaksi sosial dan penurunan fungsi kognitif. Lansia yang mengalami kesulitan dalam mengingat atau kurangnya pengetahuan penting dilakukan pengkajian fungsi kognitif dengan tujuan dapat memberikan informasi tentang fungsi kognitif lansia.Pengkajian fungsi kognitif pada lansia berfungsi untuk membantu mengidentifikasi lansia yang berisiko mengalami penurunan fungsi kognitif (Gallo, Reichel & Andersen, 2000). Dampak dari menurunnya fungsi kognitif pada lansia akan menyebabkan bergesernya peran lansia dalam interaksi sosial di masyarakat maupun dalam keluarga. Hal ini didukung oleh sikap lansia yang cenderung egois dan enggan mendengarkan pendapat orang lain, sehingga mengakibatkan lansia merasa terasing secara sosial yang pada akhirnya merasa terisolir dan merasa tidak berguna karena tidak ada penyaluran emosional melalui bersosialisasis. Keadaan ini menyebabkan interaksi sosial menurun baik secara kualitas maupun kuantitas, karena peran lansia digantikan oleh generasi muda, dimana keadaan ini terjadi sepanjang hidup dan tidak dapat dihindari (Stanley & Beare, 2007). Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2014 menunjukan pola penyakit lansia yang terbanyak adalah gangguan sendi, kemudiaan diikuti oleh hipertensi, katarak, stress, gangguan mental emosional, penyakit jantung, dan dibetes militus. Sedangkan untuk lansia yang mengalami gangguan fungsi kognitif sebesar 20,4 persen dan yang mengalami gangguan interaksi sosial sebanyak 18,6 persen. Dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang didorong oleh arus informasi yang mengglobal kenegara-negara berkembang termasuk indonesia, akan mempengaruhi dan perilaku kehidupan masyarakat Indonesia.Bagi masyarakat yang mampu mengikuti perubahan iptek akan membawa dampak positif, akan tetapi bagi yang tidak mampu atau terhambat akan mampu memunculkan permasalahan-permasalahan baru daam kehidupan bermasyrakat (Mubarak,2012). Berdasarkan studi pendahuluan yang telah penulis lakukan di Panti Harmoni, jumlah lansia sebanyak 23 orang terdiri dari perempuan 16 orang dan laki-laki 7 orang dengan kriteria 2 orang dibawah 50 tahun, dan 1 orang mengalami gangguan jiwa, 30-40% lansia dipanti harmoni juga mengalami gangguan interaksi sosial ini di sebabkan oleh beberapa faktor, yaitu usia, pendididkan, dan lain-lain. Berdasarkan data diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara fungsi kognitif dan interaksi sosisal pada lansia dip anti Harmoni Kota Blitar.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
Divisions: Faculty of Midwifery > Thesis Midwifery Students
Depositing User: Perpus PHB
Date Deposited: 09 Mar 2018 01:18
Last Modified: 09 Mar 2018 01:18
URI: http://repository.phb.ac.id/id/eprint/259

Actions (login required)

View Item View Item